You are here

Pages

  • 17 March 2015
    Kini Marak Ide Usaha Kreatif Anak Muda Balikpapan

    PERKEMBANGAN dunia ekonomi dan bisnis saat ini telah mengalami pergeseran paradigma, yaitu dari ekonomi berbasis sumber daya ke ekonomi berbasis pengetahuan atau kreativitas.

    Pergeseran tersebut terjadi karena paradigma ekonomi berbasis sumber daya yang selama ini dipandang cukup efektif dalam mengakselerasi pembangunan ekonomi dan  pengembangan bisnis di anggap telah gagal mengadaptasi dan mengakomodasi berbagai perubahan lingkungan bisnis.

    Hal itu terlihat, banyaknya anak muda yang memiliki ide-ide kreatif yang dapat dikembangkan dan mempunyai nilai jual. Saat ini pun, di Indonesia sudah banyak pengiat ekonomi kreatif yang terbilang cukup sukses bahkan mampu bersaing di kancah internasional.

    Melihat hal tersebut, tentunya setiap negara dan daerah juga tidak mau kalah untuk bersaing. Di Balikpapan, mulai tahun 2011 ekonomi kreatif sudah mulai berkembang. Pada tahun tersebut, sudah mulai bermunculan ide-ide kreatif yang mempunyai nilai jual. Serta mulai bermunculan event yang mengangkat produk-produk kreatif yang ada di Balikpapan.

    Dan yang baru-baru ini adalah event Indigo Apprentice Awards 2015 yang menjaring para pemuda yang mempunyai ide kreatif di bidang IT yang mempunyai nilai jual.

    Salah satu produk clothing yang cukup terkenal di Balikpapan The Fidele, melalui owner-nya Nauval Alhabs mengatakan awalnya dia membuat produk The Fidele sekitar tahun 2008. Saat itu dia membuat brand tersebut bersama temannya yang bernama Surya Nanda. Kebetulan mereka bersama-sama kuliah di Kuala Lumpur, Malaysia. Setelah lulus mereka ingin sekali mengangkat dan memajukan Kota Balikpapan dengan usahanya sendiri.

    “Kami melihat memang pada saat itu industri dan ekonomi kreatif yang ada di Balikpapan masih belum begitu berkembang. Bahkan, pelakunya pun sangat jarang. Akhirnya saya berdua dengan teman saya memutuskan untuk membuat brand ini agar dapat menghidupkan industri kreatif yang ada di Balikpapan,” ujar pria yang akrab disapa Boim ini.

    Sampai saat ini, usahanya dapat eksis dan terus berkembang. Pembeli produk mereka juga banyak orang yang berasal dari luar Balikpapan bahkan luar negeri. “Saat ini, kami juga sudah menyetok produk The Fidele di beberapa store di Jogjakarta dan Surabaya,” ungkapnya.

    Walau sudah tujuh tahun berdiri, dia mengeluhkan di Balikpapan ini untuk menunjang industri kreatif khususnya di bidang konveksi masih sangat kurang. Dia sendiri melakukan produksi di Bandung. “ Untuk kain di Balikpapan ini tidak tersedia. Biaya produksi di sini pun sangat mahal,” bebernya.

    Sama halnya yang dikatakan Fandhita Dio Ramadhan, pelaku ekonomi kreatif ini memiliki brand clothing Treppdenim dan jasa untuk membuat celana dan kemeja jins The Denim Club. Dio adalah lulusan dari Universitas Islam Bandung. Sama seperti Boim, dia membuat brand clothing ini karena ingin sekali memajukan dan menghidupkan industri kreatif yang ada di Balikpapan.

    “Saya memiliki brand khusus bagi masyarakat yang ingin membuat celana dan kemeja dengan bahan dasar jins. Di Balikpapan hal seperti ini masih belum ada. Oleh karena itu saya membuat brand ini agar masyarakat Balikpapan dapat membuat celana atau kemeja jins sesuai dengan keinginan mereka dan harganya tentu lebih murah,” ucapnya.

    Dia juga mengeluhkan, kurangnya sarana dan dukungan untuk industri kreatif yang ada di Balikpapan ini. Seperti bahannya saja tidak tersedia di Balikpapan. Untuk bahan kain di Balikpapan ini sangat kurang.

    “Untuk penjahit khusus jins saja saya datangkan langsung dari Bandung. Karena SDM yang ada di Balikpapan ini kreativitasnya untuk hal ini sangat kurang. Terlebih lagi mereka meminta gaji yang sangat tinggi,” keluhnya.

    Tiara Octaviany pengusaha kreatif muda yang bergerak di bidang kuliner ini memiliki brand makanan yang bernama Daily Dairy Needs (Patisserie). Brand ini menjual beberapa menu dessert seperti cheesecake dengan berbagai macam pilihan rasa, ada nutella, triple chocolate, nastar, oreo, green tea tiramisu ,volcano bite, creambrulle, euporhia chocolatemouse, dan berry pie.

    Untuk membuat makan tersebut dia mengambil short course di Indonesia Patisserie School Jakarta. Kemudian, melihat masih jarang yang menjual cake dengan konsep dan packaging yang menarik akhirnya dia memutuskan untuk membuka brand ini di Balikpapan.

    Banyak sekali sudah bermunculan produk-produk kreatif yang ada di Balikpapan. Tapi, faktanya yang terjadi para pelaku kreatif ini banyak mengambil pengalaman dari luar Balikpapan. Masih sangat sedikit orang yang mempunyai ide kreatif yang tumbuh di Balikpapan.

    Rata-rata mereka harus  keluar Balikpapan dahulu untuk mendapat ide tersebut. Selain itu, support yang ada di Kota Balikpapan untuk mengembangkan ekonomi kreatif yang ada masih sangat kurang. Peran serta pemerintah pun masih sangat minim. Tapi untungnya, sekarang banyak sekali event dan program yang berguna untuk mengembangkan ekonomi kreatif ini. (*/aji/lhl/k9)

    SUMBER: http://www.kaltimpost.co.id/berita/detail/136901-kini-marak-ide-usaha-kr...

    Download: